SURAH ALI-IMRAN AYAT 121 TENTANG PERANG UHUD DAN PENGATURAN PASUKAN

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Perang Uhud adalah perang kedua setelah Badar yang diikuti oleh Nabi Muhamad S.A.W.  Dinamakan Perang Uhud karena Perang ini terjadi di gunung Uhud. Dalam sebuah peperangan tentu saja ada strategi yang digunakan, dalam banyak buku di tulis bahwa pada Perang ini Umat Islam menderita kekalahan dengan strategi bertahan di Kota Madinah namun pada dasarnya Perang ini adalah perang pembersihan umat Islam dari orang-orang Munafik. Perang ini merupakan strategi pembersihan dan memurnikan orang-orang Islam dari orang yang berpura-pura sekaligus membersihkan kota Madinah dari golongan yang mengancam keutuhan Negara Madinah.
Dalam peperangan ini kaum Quraisy tercatat beranggotakan 3000 tentara, 700 invantri, dan 200 ekor kuda. Selain itu juga diikutsertakan beberapa kaum wanita dalam angkatan perang ini kira – kira berjumlah 15 orang. Sedangkan pasukan kaum muslim hanya terdiri atas 1000 tentara pada awalnya yang kemudian karena suatu hal menjadi sejumlah 700 tentara. Peperangan ini dipimpin oleh Abu Sofyan dalam kubu kaum Quraisy sedangkan kaum Muslim sendiri dipimpin oleh Rasulullah.

B.     Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas maka rumusan masalah yakni:
1.      Bagaimana surah Ali-Imran ayat 121 dan terjemahnya?
2.      Apa Asbabun Nuzul Q.S Ali-Imran ayat 121?
3.      Apa saja yang terjadi dalam Perang Uhud?
4.      Bagaimana pengaturan pasukan perang Uhud?

C.    Tujuan
1.      Untuk mengetahui Surah Ali-Imran ayat 121
2.      Untuk mengetahui Asbabun Nuzul Q.S Ali-Imran ayat 121
3.      Untuk mengetahui jalannya perang Uhud
4.      Untuk mengetahui pengaturan pasukan perang Uhud







  




BAB II
PEMBAHASAN
SURAH ALI-IMRAN AYAT 121 TENTANG PERANG UHUD DAN PENGATURAN PASUKAN

A.    Al-Qur’an Surat Ali-Imran Ayat 121 dan Terjemahnya
وَإِذْ غَدَوْتَ مِنْ أَهْلِكَ تُبَوِّئُ الْمُؤْمِنِينَ مَقَاعِدَ لِلْقِتَالِ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Artinya: “Dan (ingatlah), ketika kamu berangkat pada pagi hari dari (rumah) keluargamu akan menempatkan para mukmin pada beberapa tempat untuk berperang. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Q.S Ali-Imran:121)[1]
B.     Asbabun Nuzul Q.S Ali-Imran Ayat 121[2]
Ibnu Abi Hatim dan Abu Ya’la meriwayatkan dari al-Miswar binMakhramah, dia berkata, “Saya katakana kepada Ibnu Mas’ud,’Beritahu saya tentang kisahkalian pada peperangan Uhud, Ibnu Mas’ud menjawab, “Bacalah ayat setelah ayat 120 dari surah Ali Imran, maka engkau akan mendapati kisah kami, “Dan (ingatlah), ketika kamu berangkat pada pagi hari dari (rumah) keluargamu akan menempatkan para mukmin pada beberapa tempat untuk berperang. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Q.S Ali-Imran:121).
Hingga Allah Berfirman: “Ketika dua golongan dari pihak kamu,ingin (mundur) karena takut” (Ali-Imran: 122).
Ibnu Mas’ud berkata lagi, ‘Mereka adalah orang-orang yang meminta jaminan keamanan kepada orang-orang musyrik’, hingga firmannya: “Dan kamu benar-benar mengharapkan mati (syahid) sebelum kamu menghadapinya; maka (sekarang)kamu sungguh, telah melihatnya dan kamu menyaksikannya”. (Ali-Imran: 143).
Ibnu Mas’ud berkata,’ Itu adalah angan-angan para orang mukmin untuk bertemu musuh’, hingga firmannya: ‘Apakah jika dia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (Murtad)?’ (Ali-Imran:144).
Ibnu Mas’ud berkata lagi, itu adalah teriakan setan pada perang Uhud yaitu, ‘Muhammad telah terbunuh’.
C.    Perang Uhud
1.      Pengertian perang dan Uhud
Dalam kamus Bahasa Indonesia, Perang bearti ilmu siasat perang, siasat perang, akal atau tipu muslihat untuk mencapai sesuatu maksud dan tujuan yang telah direncankan.[3]Perang adalah permusuhan, pertempuran dan sebagainya bersenjata antar negara, bangsa, perjuangan, perkelahian, mengadu tenaga dan sebagainya.[4]Uhud adalah sebuah gunung yang menguasai sebagian besar kota Madinah, sekitar 5 km sebelah utara Madinah.[5]
2.      Kronologi Perang Uhud
Keluarga, kaum kerabat dan handai tolan tokoh-tokoh musyrikin Quraisy yang terbunuh dalam perang Badr sepakat hendak melancarkan serangan pembalasan terhadap kaum muslimin. Akan tetapi tidak mempunyai dana yang cukup untuk membekali peperangan besar yang hendak mereka korbankan. Untuk memperoleh dana yang memadai mereka berunding dengan Abu Sufyan bin Harb dan semua anggota rombongan kafilahnya agar bersedia mendermakan harta untuk membiayai peperangan melawan kaum muslimin di Madinah. Dalam perundingan itu tercapai kesepakatan bulat untuk memobilisasi tenaga, dana dan data senjata guna menghadapi peperangan mendatang. Mereka berkampanye membangkitkn semangat penduduk Makkah dan sekitarnya. Antara lain dengan jalan menggerakan para penyair agar dengan syairnya masing-masing mengorbankan lebih hebat lagi kebencian dan semangat permusuhan terhadap kaum Muslimin.
Pada pertengahan bulan syawwal tahun ketiga Hijriah  berangkatlah pasukan besar musyrikin Quraisy dan kabilah-kabilah Arab menuju medan perang dekat Madinah. Tidak ketinggalan pula sejumlah wanita dibawah pimpinan istri Abu Sufyan, HIndun, yang terus-menerus beragitrasi membakar semanagat pasukan, agar jangan ada seorang pun yang lari dari medan tempur.[6]
Berita tentang keberangkatan pasukan musyrikin dari Makkah itu cepat didengar Rasulullah saw. beliau berunding dengan para sahabatnya untuk memilih cara yang terbaik dalam menghadapi serangan yang akan segera terjadi. Beliau sendiri berpendapat, sebaiknya kaum muslimin bertahan didalam kota Madinah, membiarkan pasukan musyrikin masuk, baru kemudian dilawan dan dihancurkan. Akan tetapi kaum muslimin berpendapat lain. Mereka menghendaki supaya kaum muslimin keluar dari Madinah dan bertempur diluar kota. Dalam perundingan tersebut seorang dari mereka berkata: “ya Rasulullah, ajaklah kami menghadapi musuh diluar kota, agar mereka tidak mengetahui segi kelemahan kita1” ‘Abdullah bin Ubaiy seorang yang memperlihatkan diri sebagai muslimin dan menyembunyikan kekufurannya dalam hari- hendak menggunakan perbedaan pendapat itu untuk menimbulkan perpecahan, tetapi gagal karena setelah Rasulullah saw. mengetahui kaum muslimin tetap menghendakinpeperangan diluar kota, beliau masuk ke dalam rumah, kemudian keluar lagi dalam keadaan sudah memakai baju zirah (baju besi)
Orang-orang yang berhasil mempengaruhi pendapat kaum muslimin hingga bulat menghendaki peperangan diluar kota, merasa seolah-olah telah memaksakan pendapatnya kepada Rasulullah saw. karena itu mereka lalu menghampiri beliau kemudian berkata: “ ya Rasulullah, kami merasa telah memaksakan sesuatu kepada anda, tetapi sebenarnya kami tidak bermaksud demikian. Bila anda mau, bolehlah anda tetap tinggal  didalam kota dan biarkan kami berperang diluar kota! Rasulullah saw. menjawab: “ Tidak patut bagi seorang Nabi menanggalkan baju zirah  yang telah dipakainya sebelum perang berakhir!”[7]
Setelah mempersiapkan segala sesuatunya beliau berangkat meninggalkan Madinah memimpin 1000 orang pasukan Muslimin. Setibanya disebuah tempat bernama Asy-Syauth (riwayat lain menyebut tempat itu bernama “Syaikhan”) Rasulullah saw. melihat rombongan pasukan tak dikenal. Setelah mengetahui bahwa rombongan itu orang-orang Yahudi sekutu ‘Abdullah bin Ubaiy, beliau berkata kepada para sahabatnya:” jangan minta bantuan mereka dalam peperangan melawan kaum musyrikin!” Rombongan Yahudi yang semulanya hendak bergabung dengan kaum muslimin atas permintaan ‘Abdullah bin Ubaiy itu akhirnya tidak dibolehkan turut serta berperang dipihak pasukan Muslimin. Keesokan harinya ‘Abdullah bin Ubaiy dan pengikutnya yang berkekuatan 300 orang bersama rombongan Yahudi itu pulang ke Madinah dengan alasan: Rasulullah saw menuruti kehendak orang-orang yang bersikeras hendak berperang diluar kota, mengabaikan pendapat Abdullah bin Ubaiy dan kawan-kawannya yang mendukung pendapat beliau semula, yaitu berperang didalam kota Madinah.
Dengan keluarnya Abdullah bin Ubaiy dan 300 orang pengikutnya dari pasukan Muslimin maka Rasulullah saw. akan menghadapi perlawanan kaum musyrikin yang berkekuatan 3000 orang dengan kaum Muslimin yang berkekuatan tidak lebih dari 700 orang.[8]
3.      Jalannya Perang Uhud
Setelah menghadapi persoalan penarikan diri AbdulllahbinUbay dan kaum munafik. Nabi Muhammad beserta pasukan muslimin melanjutkan perjalanan menuju Uhud. Nabi Muhammad SAW meminta ditunjukan suatu jalan yang tidak dilalui oleh kaum Quraisy. Khaistamah menunjukan jalan yang dekat dan yang dikehendaki oleh Nabi Muhammad SAW. Setelah perjalanan dilanjutkan tibalah rombongan Nabi disebuah jalan kecil milik Marba’ bin Qaizhi yang buta matanya. Ketika Nabi Muhammad SAW berjalan didepan rumah Marba’ bin Qaizhi, tiba – tiba Marba’ bin Qaizhi menaburkan debu kearah muka Nabi sambil berkata, “Kalau engkau itu pesuruh Allah, aku tidak akan menghalalkan kau jalan di jalanku ini”. Dengan cepat Sa’ad bin Zaid memukul Marba hingga terluka parah.sahabat – sahabat Nabi Muhammad SAW hendak membunuh Marba’ bin Qaizhi, tetapi Nabi Muhammad SAW mencegahnya.[9]
Perjalanan kemudian dilanjutkan hingga sampailah kaum muslimin di suatu tempat di bawah kaki Gunung Uhud. di sinilah Nabi Muhammad beserta pasukannya berhenti karena melihat tentara musuh sudah beramai –ramai menduduki tempat – tempat dekat Gunung Uhud. Pasukan kaum Quraisy memiliki pasukan empat kali lipat dari pasukan muslim. Selain itu pasukan musuh juga memiliki persenjataan yang lebih lengkap, selain itu juga sebagian kaum Quraisy telah meiliki keahlian dalam berperang. Nabi Muhammad SAW segera mengumpulkan para tentaranya lalu memilih dan menduduki tempat yang cukup strategis letaknya. Akan tetapi, karena sebagian tempat tersebut sudah dikuasai oleh kaum Quraisy, jadi tempat yang diduduki oleh Nabi Muhammad SAW adalah tempat yang dibelakangnya terdapat suatu jalan yang terbuka yang dapat dipergunakan oleh musuh untuk menyerang pasukan Muslimin dari arah belakang.
Walaupun demikian, sebagai seorang pemimpin yang bijaksana. Nabi Muhammad tetap menempatkan pasukan yang memiliki keahlian memanah dalam tempat tersebut sejumlah 50 orang pemanah yang dipimpin oleh Abdullah bin Jubair. Sedangkan kaum Quraisy menempatkan pasukannya pada sayap kanan ditempatkan berupa pasukan berkuda yang dipimpin oleh Khalid bin Walid, sayap kiri barisan berkuda yang dipimpin oleh Ikhrimah bin Abu Jahal, dan barisan tengah dipimpin oleh Shafwan bin Umayyah beserta pahlawan Quraisy lainnya. Semuanya telah bersiap- siap di tempat – tempat yang tidak mudah ditempuh oleh tentara kaum Muslim. Bendera perang kaum Quraisy dipegang oleh Abu Thalhah.[10]
Nabi Muhammad juga mulai mengatur barisan pasukan muslim. Nabi Muhammad SAW menempatkan Abu Bakar ash-Shidiq, Umar bin Khatab, Ali bin Abu Thalib, Zubair bin Awwam, Abu Dujanah Sammak bin Kharsyah, Thalhah bin Ubaidillah, Sa’ad bin Ubadah, Usaid bin Hudhair, dan Habbab bin al-Mundzir dibarisan pertama. Kemudian Nabi Muhammad SAW menginstruksikan kepada pasukan Muslimin yang telah berada pada posisi mereka masing – masing agar tidak melakukan peperangan sebelum Nabi Muhammad SAW mengijinkan mereka untuk berperang dan memerintahkan pasukan pemanah agar tidak meninggalkan posisi mereka dalam kondisi apapun.[11]
Setelah kedua pasukan saling berhadapan dan siap bertempur, dimulailah dengan perang tanding. Abu Thalhah al-‘Abdari keluar dengan membawa panji kaum Quraisy lalu menantang perang tanding beberapa kali tetapi tidak seorang pun pasukan dari kaum Muslimin yang berani maju untuk melawannya. Kemudian Abu Talhah berkata kepada pasukan Muslimin:
“Wahai para sahabat Muhammad, kalian mengaku bahwa Allah akan menyegerakan kami dengan pedang kalian ke neraka dan menyegerakan kalian dengan pedang kami kesurga, tetapi adakah diantara kalian seorang yang mampu menyegerakan aku dengan pedangnya ke neraka atau aku aka menyegerakannya dengan pedangku kesurga. Kalian dusta demi Lata dan Uzza, seandainya kalian mengetahui hal itu benar niscaya ada orang yang keluar menyambutku”.[12]
Setelah mendengar perkataan tersebut, akhirnya Ali Bin Abi Thalib maju ke medan pertempuran kemudian berhasil memukul Abu Thalhah hingga patah kakinya dan tergeletak di tanah. Kemudian Ali bin Abu Thalib mundur kembali kebarisan Nabi Muhammad. Setelah Abu Thalah tewas tewas, pemegang panji perang dipegang oleh saudaranya, Utsman bin Abu Thalhah yang akan berhadapan dengan Hamzah, dan berhasil dibunuhnya. Setelah Utsman bi Abu Thalhah tewas, panji kemudian diambil oleh saudaranya Abu Sa’id bin Abu Thalhah yang berhadapan dengan Sa’ad bin Abi Waqash, dan berhasil dibunuhnya juga dengan panahan. Selanjutnya panji perang diambil oleh Musafi’ bin Thalhah bin Abu Thalhah dan berhasil dibunuh oleh Ashim bin Tsabit bin Abu Alfah.
Setelah Musafi’ tewas, panji kemudian diambil alih oleh Abdu Dar yang behasil dibunuh oleh Ali bin Abi Thalib. Hingga akhirnya panji tergeletak kotor di tanah hingga diambil alih oleh Amrah binti Alqamah al-Haritsiyah lalu mengangkatnya kepada pasukan Quraisy dan mereka mengerumuninya. Demikianlah para pahlawan kaum Muslimin berhasil menumbangkan para tokoh dan pembawa panji Quraisy dan tidak ada lagi yang sanggup membawa panji tersebut hingga dipungut oleh seorang wanita. Setelah para pembawa panji tersebut terbunuh kemudian kaum Quraisy terpecah belah, semangat mereka merosot dan kekuatan mereka pun hancur. Hal tesebut menunjukan kepiawaian Nabi Muhammad SAW dalam bidang militer karena mampu melemahkan kemampuan perang pasukan Quraisy sehingga mendesak pasukan Quraisy mundur dan lai meninggalkan harta dan wanita-wanita Quraisy.[13]
Para pemanah yang menyaksikan hal tersebut dari atas bukit mereka mengira bahwa pertempuran sudah usai. Mereka bergegas mengumpulkan harta yang ditinggalkan oleh kaum Quraisy. Menyaksikan hal tersebut Abdullah bij Jubair mengingatkan akan perintah Nabi agar tidak meninggalkan bukit dalam kondisi apapun. Sebagaian kecil pasukan mentaati perintah Nabi, namun sebagian pasukan yang berjumlah kira – kira 40 orang mengabaikan perintah Nabi Muhammad SAW.
Tentara berkuda dari sayap kanan yang dipimpin oleh Khalid bin Walid menyaksikan jelas bahwa sebagian besar pasukan pemanah Muslimin yang berjaga dibukit Uhud sudah meniggalkan posisi. Oleh karena itu secara diam – diam Khalid binWalid mengarahkan pasukannya untuk menyerang kaum Muslimin yang sedang sibuk mengumpulkan harta rampasan. Pasukan muslim yan dikejutkan oleh serangkaian serangan pedang dan anak panah dari arah belakang membuat terbunuhnya sebagian dari mereka. Serangan secara mendadak itu membuat kaum muslimin terguncang dan ketakutan, sehingga membuat mereka terpencar dan tercerai – berai.
Setelah Nabi Muhammad SAW melihat keadaan yang semakin kacau, Nabi menyadari bahwa tentaranya sedang terancam oleh bahaya yang besar dari pihak musuh. Oleh karena itu, Nabi Muhammad SAW segera memilih salah satu dari dua alternative yaitu melindungi diri sendiri ditempat yang tersembunyi atau maju berperang ditengah medan pertempuran yang sedang berkobar untuk membela barisan tentara yang sedang berantakan yang terkepung oleh pihak musuh. Seketika itu juga Nabi mengambil keputusan yaitu untuk sementara Nabi menyembunyikan diri sambil berseru memanggil sebagian tentaranya agar segera lari mengelilingi tempat Nabi bersembunyi.
Mush’ab bin Umair yang saat itu memegang bendera tentara islam, selalu melindungi Nabi Muhammad SAW dari ancaman tentara kaum Quraisy yang menginginkan Nabi untuk dibunuh. Samapi suatu hal, karena ingin sekali melindungi Nabi Muhammad SAW Mush’ab terbunuh oleh Ibnu Qam’ah karena disangkanya adalah Nabi Muhammad. Dikarenakan Mush’ab bin Umair memeiliki wajah yang mirip dengan Nabi Muhammad. Ibnu Qam’ah berteriak bahwa Nabi Muhammad telah terbunuh. Hal itu membuat pasukan Muslimin terpecah menjadi tiga golongan, yaitu sebagian melarikan diri menuju tempat dekat Madinah, tetapi tidak berani pulang ke Madinah dikarenakan malu. Diantara pasukan muslim yang melarikan diri adalah Utsman bin Affan, Waid bin Uqbah, Kharijah bin Zaid, dan Rifa’ah bin Ma’la.[14]  
Sedangkan golongan kedua tetap bertempur dengan pantang menyerah karena mereka telah mendengar ucapan Nabi Muhammad SAW telah terbunuh. Salah seorang tentara Muslimin, Tsabit bin Dahdah, memperingatkan kawan-kawannya,”Hai para kawanku Anshar! Jika benar Nabi Muhammad SAW telah mati terbunuh biarlah ia mati, karena hanya Allah yang tidak mati selama – lamanya! Karena itu, berpeganglah kamu kepada agamamu dengan kokoh dan kuat! Allah sendirilah yang akan menolong dan memberikan kemenangan kepadamu!”. Dari situlah kemudian pasukan muslimin mneyerahkan diri hanya pada Allah dan terus berjuang tanpa rasa takut. Dan yang terakhir adalah golongan ketiga sebanyak 14 orang mengelilingi Nabi Muhammad SAW dan mereka berusaha melindungi Nabi Muhammad SAW dari serangan kaum Quraisy. Mereka terdiri dari 7 sahabat Anshar dan 7 sahabat Muhajirin.
Sampai pada suatu waktu Ka’ab bin Malik berteriak bahwa Nabi Muhammad masih hidup. Pasukan kaumQuraisy semakin mendesak untuk menerobos pertahanan para sahabat NAbi Muhammad SAW. Terlebih ketika mengetahui yang bertahan hanya sekitar 30 orang saja. Tentara Quraisy semakin mendesak pertahanan sahabat Nabi sambil melepaskan anak panah kepada 30 orang yang sedang melindungi Nadi tetap bertahan dan menangkis serangan dari pasukan Quraisy. Pasukan Quraisy berusaha mencari celah untuk menerjang dan menerobos pertahanan mereka. Akan tetapi pasukan kaum Quraisy tidak berhasil menerobos karena ketatnya pertahanan yang dibuat oleh para sahabat Nabi.
 Ketika serangan kaum Quraisy semakin hebat,Nabi Muhammad SAW terkena lemparan batu dari pihak musuh yang membuat Nabi terluka. Pada saat itu juga Hamzah bi Abdul Muthalib juga terbunuth di tengah – tengan pertempuran oleh seorang tentara musuh, yaitu Wahsyi salah sorang budak dari Hindun dengan menggunakan tombak. Hamzah gugur setelah berhasil membunuh 31 orang dari pihak musuh. Mendengar berita tersebut Nabi Muhammad SAW merasa sangat sedih, karena Hamzah adalah paman Nabi yang memiliki jasa yang sangat besar kepada Nabi Muhammad SAW. Pasukan kaum Quraisy merasa tidak puas apabila belum membunuh Nabi Muhammad pada saat perang Uhud. Pasukan kaum Quraisy beranggapan dengan membunuh Nabi Muhammad maka kaum Mulsim akan hancur.[15]
Selain terkena lemparan batu, Nabi Muhammad juga terkena lemparan potongan besi dan lemparan batu. Hal itu membuat Nabi Muhammad terluka pada dahi, dan gigi. Selain itu Nabi juga terkena lempaan berupa potongan besi lagi dari Abu Qam’ah yang menembus kebagian dalam pipi Nabi Muhammad SAW. Melihat keadan demikian Malik bin Sinan membersihkan darah yang mengalir di muka Nabi Muhammad SAW. Dalam keadaan seperti itu serangan kaum Quraisy masih terus dilancarkan dengan gencar terhadap Nabi Muhammad SAW. Kemudian datang Ubay bin Khalaf dari kaum Quraisy dengan menunggangi kuda yang bernama Ud menuju pertahanan Nabi Muhammad SAW dengan berniat membunuh Nabi Muhammad SAW. Namun pada akhirnya Ubay bin Khalaf dapat dibunuh juga oleh Nabi Muhammad SAW dengan menggunakan sebilah tombak.
Saat ingin berjalan menuju tempat Nabi berada Nabi Muhammad SAW terperosok jatuh kesebuah lubang yang digali oleh pihak musuh, yaitu Amir ar –Rahib. Akibatnya kedua lutut Nabi Muhammad terluka. Kondisi tersebut membuat Nabi Muhammad SAW semakin tidak bertenaga dan akhirnya pingsan, yang kemudian ditolong oleh Ali bin ABi Thalib dan Thalhah bin Ubaidillah.
D.    Pengaturan Pasukan Perang Uhud[16]
Adapun di pihak Islam, dengan fasilitas dan pasukannya yang sangat minim. Rasulullah pun membuat strategi tersendiri guna membela kehormatan dan kemuliaan Islam dan umatnya. Di antara strategi ini, salah satunya adalah strategi yang terkait dengan persiapan sebelum perang. Yaitu sebagai berikut:
1.      Menempatkan Inteligen di Sarang Musuh
Setelah perang Badar, satu strategi Rasulullah saw yang sangat urgen adalah menempatkan para inteligennya di Mekah untuk memberikan informasi-informasi yang terkait tentang pasukan Quraisy. Salah satunya adalah Abbas bin Abdul Muthalib, pamannya sendiri. Melihat pasukan Quraisy yan sudah berangkat ke Madinah untuk melakukan penyerangan, beliau mengirimkan surat melalui utusannya untuk disampaikan kepada Rasulullah. Dalam waktu tiga hari, utusan tersebut sampai di Madinah la menyerahkan surat itu kepada Rasulullah yang sedang berada di masjid Quba. Setelah menerima surat itu, Rasulullah meminta ahli bahasanya, Ubay bin Ka'ab, membacakan surat tersebut. la juga diperintahkan untuk menjaga kerahasiaan isi surat tersebut.
2.      Membentuk Majelis Permusyawaratan Militer
Rupanya, salah satu kelebihan Rasulullah sebagai seorang pemimpin adalah mendengarkan jajak pendapat dari para sahabatnya. Sekalipun posisi beliau sebagai seorang nabi, beliau mampu mengatur sendiri jalannya strategi yang akan digunakan dan tentunya mendapat arahan dan wahyu dari langit, beliau masih memusyawarahkannya dengan para sahabat.

3.      Pembagian Komando[17]
Jumlah pasukan kaum muslimin ketika itu 1000 orang. Pasukan itu terdiri atas 100 prajurit mengenakan baju besi dan 50 penunggang kuda dan sisanya pasukan berpedang. Kemudian, pasukan ini dibagi menjadi tiga batalion, yaitu:
a)      Batalyon Muhajirin, benderanya diserahkan kepada Mush'ab bin Umair
b)      Batalyon Aus, benderanya diserahkan kepada Usaid bin Hudhair
c)      Batalyon Khazraj, benderanya diserahkan kepada Al-Hubab bin Al-Mundzir Al-Jamuh.
4.      Menginspeksi Pasukan
Setibanya Rasulullah dan pasukannya di Syaikhani, beliau selaku komandan tertinggi menginspeksi pasukan. Ternyata, di dalam pasukan terdapat anak-anak yang usianya sangat belia. Beliau menolak keikutsertaan mereka, kecuali yang mempunyai spesialisasi dalam peperangan, seperti Rafi bin Khudaij yang mahir memanah dan Samurah yang ahli beladiri. Hari itu adalah hari Jumat. Karena hari sudah petang, mereka menginap di tempat itu dan memerintahkan lima puluh orang pasukan mengadakan hirasah, yakni menjaga di sekitar pasukan.
5.      Tidak Meminta Pertolonga Orang-orang Kafir
Rasulullah melakukan hal itu ketika berangkat dari Madinah ke Uhud. Ia mendapati sekelompok Yahudi, sekutu Abdullah bin Ubay yang ingin turut serta membantu Rasulullah. Namun, Rasulullah menolaknya dengan mengatakan "Jangan minta pertolongan orang-orang musyrik dalam melawan orang musyrik sebelum mereka masuk Islam."


6.      Meredakan Konflik Internal Sebelum Peperangan[18]
Munir Muhammad Al-Ghadhban dalam Fiqh As-Sirah An-Nabawiyahnya mengatakan bahwa Perang Uhud ini merupakan pembeda antara orang-orang mukmin dan orang-orang munafik, seperti dalam firman Allah dalam QS All Imran [3]:166-167
7.      Memilih Posisi yang Strategis
Rasulullah merupakan salah satu panglima yang ahli dalam pengaturan strategi militer. Hingga ketika itu, pasukannya dibawa ke kaki Bukit Uhud. Pasukan muslim mengambil tempat dengan proses menghadap ke arah Madinah dan memunggungi Uhud. Dengan posisi ini, pasukan musuh berada di tengah antara mereka dan Madinah.
8.      Pembagian Pos Militer
Rasulullah membagi pos militer para prajuritnya, prajurit dakwah, serta prajurit yang siap mengorbankan harta, waktu, tenaga dan bahkan jiwa untuk mendapatkan keridhaan Allah SWT. Beliau pun menempatkan satuan pasukan khusus yang dipimpin oleh Abdullah bin Jubair. Anggotanya terdiri dari 50 pemanah ulung di bukit Uhud, tepatnya 150 meter dari pasukan kaum muslim. Berikut ini instruksi-instruksi yang disampaikan Rasulullah kepada mereka, mengingat pentingnya posisi mereka.
a.       "Lindungi kami dari belakang, sebab kami khawatir mereka akan mendatangi kami dari belakang. Bertahanlah dan jangan tinggalkan tempat itu. Kamu jangan meninggalkan tempatmu kalau melihat kami berhasil menghancurkan dan memasuki pertahanan mereka. Jika melihat kami diserang, jangan dibantu. Kami juga tidak mempertahankan. Tugas yang kauemban adalah menghujani kuda-kuda mereka dengan panah, karena kuda itu tak akan dapat maju dengan serangan panah."
b.      "Lindungilah punggung kami jika kami sedang bertempur, maka kalian tidak perlu membantu kami. Jika kalian melihat kami telah mengumpulkan harta ghanimah, kalian jangan ikut bergabung bersama kami." Imam Bukhari meriwayatkan, "Jika kalian melihat kami disambar burung sekalipun, janganlah kalian meninggalkan tempat itu, kecuali ada utusanku yang mendatangi kalian. Jika kalian melihat kami berhasil mengalahkan mereka, janganlah kalian meninggalkan tempat hingga ada utusan yang mendatangi kalian."
Kemudian, sayap kanan dipimpin oleh Al-Mundzir bin Amr. Sementara, sayap kiri dipimpin oleh Zubair bin Awam dengan dibantu satuan khususnya, Al-Miqdad bin Al-Aswad untuk menghadang penyerangan pasukan Khalid bin Walid. Barisan terdepan diisi oleh para pemberani yang mencari syahid, yakni para pahlawan Islam yang langsung dipimpin oleh Rasulullah.
9.      Mengobarkan Semangat Jihad
Beliau mengobarkan semangat para kadernya untuk sabar, teguh, berani, serta patriotik dalam menyongsong syahid dan memperoleh surga Allah SWT.





BAB III
PENUTUP
Simpulan
وَإِذْ غَدَوْتَ مِنْ أَهْلِكَ تُبَوِّئُ الْمُؤْمِنِينَ مَقَاعِدَ لِلْقِتَالِ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Artinya: “Dan (ingatlah), ketika kamu berangkat pada pagi hari dari (rumah) keluargamu akan menempatkan para mukmin pada beberapa tempat untuk berperang. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Q.S Ali-Imran:121).
Asbabun Nuzul dari Q.S Ali-Imran:121 adalah Ibnu Abi Hatim dan Abu Ya’la meriwayatkan dari al-Miswar binMakhramah, dia berkata, “Saya katakana kepada Ibnu Mas’ud,’Beritahu saya tentang kisahkalian pada peperangan Uhud, Ibnu Mas’ud menjawab, “Bacalah ayat setelah ayat 120 dari surah Ali Imran, maka engkau akan mendapati kisah kami, “Dan (ingatlah), ketika kamu berangkat pada pagi hari dari (rumah) keluargamu akan menempatkan para mukmin pada beberapa tempat untuk berperang. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Q.S Ali-Imran:121).
Uhud adalah sebuah gunung yang menguasai sebagian besar kota Madinah, sekitar 5 km sebelah utara Madinah. Rasulullah membuat strategi tersendiri guna membela kehormatan dan kemuliaan Islam dan umatnya. Di antara strategi ini, salah satunya adalah strategi yang terkait dengan persiapan sebelum perang. Yaitu sebagai berikut: Menempatkan inteligen disarang musuh, Membentuk majelis permusyawaratan militer, Pembagian komando, Tidak meminta pertolongan orang-orang kafir, Menginspeksi pasukan, Meredakan konflik internal sebelum peperang, Memilih posisi yang strategis, dan Pembagian Pos militer.



DAFTAR PUSTAKA

Abu Ayyasy, Muhammad. 2009. Strategi Perang Rasulullah, Jakarta: QultumMedia
 Al-Hamid dan Al-Husaini. 2006. Riwayat Kehidupan Nabi Besar Muhammad saw. Bandung: Pustaka Hidayah
As-Suyuthi, Jalaludin. 2008.  Asbabun Nuzul: Sebab Turunnya al-Qur’an. terj. Tim Abdul Hayyie. Jakarta: Gema Insani
Chalil, Moenawar. 2001. Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad Jilid 2. Jakarta: Gema Insani Press
Faris, Abu. 1988,. Analisis Aktual Perang Badar dan Uhud di Bawah Naungan Sirah Nabawiyah. Jakarta: Robbani Press
Husain Haekal, Muhammad. 2005. Sejarah Hidup Muhammad, terj. Ali Audah. Jakarta: Litera AntarNusa
Kementrian Agama. 2010.  Al-Qur’an Terjemah dan Tafsir perkata. Bandung: CV. Jabal Raudhatul Jannah
Kumala, Aprilia. 2006.  Kamus Bahasa Indonesia. Surabaya: Ikhtiar





[1] Kementrian Agama, Al-Qur’an Terjemah dan Tafsir perkata, Bandung: CV. Jabal Raudhatul Jannah, 2010, hlm. 66
[2] Jalaludin, As-Suyuthi, Asbabun Nuzul: Sebab Turunnya al-Qur’an, terj. Tim Abdul Hayyie, Jakarta: Gema Insani, 2008, hlm. 131-132
[3] Aprilia Kumala,  Kamus Bahasa Indonesia, Surabaya: Ikhtiar,  2006, hlm, 451
[4] Ibid, hlm ,331
[5] Muhammad Husain Haekal , Sejarah Hidup Muhammad, terj. Ali Audah, Jakarta: Litera AntarNusa, 2005, hlm, 289.
[6] Al-Husaini dan Al-Hamid, Riwayat Kehidupan Nabi Besar Muhammad saw, Bandung: Pustaka Hidayah, 2006, hlm 567
[7] Ibid. hlm. 568
[8] Ibid. hlm. 569
[9] Moenawar,Chalil, Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad Jilid 2, Jakarta: Gema Insani Press, 2001, hlm. 110

[10] Ibid. hlm. 111
[11] Abu, Faris, Analisis Aktual Perang Badar dan Uhud di Bawah Naungan Sirah Nabawiyah, Jakarta: Robbani Press, 1988, hlm. 229
[12] Ibid. hlm. 233
[13] Ibid. hlm. 233-234
[14] Moenawar Chali, Op. Cit, hlm. 122

[15] Moenawar,Chalil, Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad Jilid 2, Jakarta: Gema Insani Press, 2001, hlm. 124

[16] Muhammad Abu Ayyasy, Strategi Perang Rasulullah, Jakarta: QultumMedia, 2009, hlm 70-71
[17] Ibid. hlm 72
[18] Ibid. hlm. 74

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Individu

WAKAF, HIBAH, SEDEKAH, DAN HADIAH

Sejarah Peradaban Islam Masa Nabi Muhammad Saw.

makalah pengertian pendidikan

MAKALAH PERKEMBANGAN MASA ANAK-ANAK