Sunday, 25 September 2016

Zakat

Zakat
A.   Pengertian Zakat
Secara bahasa, zakat berarti tumbuh (numuww) dan bertambah (ziyadah). Jika di ucapkan, zaka al-zar, artinya adalah tanaman itu tumbuh dan bertambah. Jika diucapkan zakat al-nafaqah, artinya nafkah, tumbuh dan bertambah jika diberkati.kata ini juga sering dikemukakan untuk makna thaharah (suci).
Allah swt. Berfirman :
http://www.surah.my/images/s091/a009.png
“Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu” (QS Asy-syams :9)
Maksud kata zakka dalam ayat ini ialah menyucikan dari kotoran. Arti yang sama (suci) juga terlihat dalam ayat berikut:
http://www.surah.my/images/s087/a014.png
“Sesungguhnya, beruntunglah orang yang menyucikan diri” (QS Al-A’la:14)
Kata zakat, adakalanya bermakna pujian, misalnya dalam firman Allah swt. Berikut ini:
http://www.surah.my/images/s053/a032.png
“Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci (QS An-Najm:32)”
Adapun harta yang dikeluarkan, menurut syara’ dinamakan zakat karena harta itu akan bertambah dan memelihara dari kebinasaan. Allah swt. Berfirman:
http://www.surah.my/images/s002/a043.png
Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat dan ruku’lah kalian bersama orang-orang yang ruku’ (QS Al-Baqarah: 43)
Maksudnya, zakat itu akan menyucikan orang yang mengeluarkannya dan akan menumbuhkan pahalanya. (Al-zuhaily, 1997: 82-83).
B.     Syarat Zakat
Menurut kesepakatan ulama , Zakat mempunyai beberapa syarat wajib dan syarat sah. syarat wajib zakat diantaranya:
a)      Merdeka.
b)      Islam.
c)      Baligh dan Berakal.
d)     Harta yang dikeluarkan adalah harta yang wajib dizakati.
e)      Harta yang dizakati telah mencapai nishab atau senilai dengannya.
f)       Harta yang dizakati adalah milik penuh.
g)      Kepemilkan harta yang telah mencapai setahun, menurut hitungan tahun qamariyah.
h)      Harta tersebut bukan merupakan harta hasil utang.
i)        Harta yang akan dizakati melebihi kebutuhan pokok.   

Adapun syarat sah pelaksanaan zakat
a)      Niat.
b)      Tamlik (memindahkan kepemilikan harta kepada menerimanya)

C.     HUKUM-HUKUM ZAKAT
1)      Zakat diwajibkan bagi orang-orang Islam yang merdeka, tidak disyaratkan sampai umur dan berakal.
2)      Zakat wajib atas barang-barang perniagaan sebagaimana wajib pada unta, sapi, kambing dan tiap-tiap tumbuh-tumbuhan dan zakat ditunaikan setiap satu tahun sekali.
3)      Termasuk wajib zakat adalah mengeluarkan zakat fitri yang dikenal dengan zakat jiwa.
4)      Islam memperhatikan soal zakat, waktu, kadar, dan nishab, orang yang wajib atasnya dan orang-orang yang berhak menerimannya.
5)      Syara’ dengan sangat tegas menjadikan zakat pada empat macam harta dan dialah harta-harta yang paling banyak beredar dalam masyarakat dan yang sangat dibutuhkan, antara lain :
a)      Tanaman dan buah-buahan.
b)      Unta, sapi dan kambing
c)      Emas dan perak
d)     Harta-harta perniagaan yang bermacam-macam.
6)      Islam mewajibkan zakat setahun sekali. Nishab perak ialah 200 dirham. Sedang nishab emas 20 misqal. Nishab biji-bijian dengan 50 gantang. Nishab kambing 40 ekor, lembu 30 ekor dan unta 5 ekor.
7)      Islam mewajibkan 1/5 pada rikaz dan tidak mewajibkan dan tidak mewajibkan cukup setahun kita milikinya.
8)      Islam mewajibkan 1/10 pada buah-buahan dan tanam-tanaman yang urusannya tidak diperlukan usaha manusia, sebagaimana mewajibkan 1/20 pada buah-buahan dan tanaman yang urusan penyiramannya diusahakan oleh manusia.
9)      Islam mewajibkan 21/2% pada emas dan perak. Islam mewajibkan zakat dari 40 ekor kambing, seekor kambing yang berumur 2 tahun, zakat dari 30 ekor lembu, seekor anak lembu yang berumur 2 tahun, zakat dari 5 ekor unta, seekor kambing. ( Ash-Shiddieqy, 2011: 172-173)
D.    Macam-Macam  Zakat
Secara umum zakat terbagi menjadi dua macam, yaitu zakat jiwa (nafsh) / zakat fitrah dan zakat maal.
1.      Zakat jiwa (nafsh)/zakat fitrah
Pengertian fitrah ialah, sifat asal, bakat, perasaan keagamaan dan perangai, sedangkan zakat fitrah adalah zakat yang berfungsi yang mengembalikan manusia muslim keadaan fitrahnya, dengan menyucikan jiwa mereka dari kotoran-kotoran (dosa-dosa) yang disebabkan oleh pengaruh pergaulan dan sebagainya. Sehingga manusia itu menyimpang dari fitrahnya. Yang dijadikan zakat fitrah adalah bahan makanan pokok bagi orang yang mengeluaran zakat fitrah atau makanan pokok di daerah tempat berzakat fitrah seperti; beras, jagung, tepung sagu, tepung gaplek dan sebagainya.
Zakat ini wajib dikeluarkan sesuai bulan Ramadhan sebelum shalat ‘id sedangkan, bagi orang yang mengeluarkan zakat fitrah setelah dilaksanakan shalat’id maka apa yang diberikan bukanlah termasuk zakat fitrah tetapi merupakan sedekah, hal ini sesuai dengan hadis Nabi saw dari ibnu Abbas, ia berkata, “Rassulullah Saw mewajibkan zakat fitrah itu sebagai pembersih bagi orang yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan perkataan yang kotor dan sebagai makanan bagi orang yag miskin. Karena itu, barang siapa mengeluarkan sesudah shalat maka dia itu adalah salah satu shadaqah biasa (hadis abu daud dan ibnu majjah). Melewatkan pembayaran zakat fitrah sampai selesai sembahyang hari raya hukumnya makruh karena tujuan utamanya membahagiakan orang-orang miskin pada hari raya, dengan demikian apabila dilewatkan pembayaran hilanglah separuh kebahagiannya pada hari itu.
Banyaknya zakat fitrah untuk perorangan satu sha’ (2,5 kg/3,5 liter) dari bahan makanan untuk membersihkan puasa dan mencukupi kebutuhan-kebutuhan orang miskin di hari raya idul fitri, sesuai dengan hadis Nabi Saw, “ dari ibnu umar ra; Rasulullah Saw telah mewajibkan zakat fitri 1(satu) sha’ dari kurma/gandum atau budak, orang merdeka laki-laki dan perempuan, anak kecil dan orang tua dari seluruh kaum muslimin. Dan beliau perintahkan supaya dikeluarkan sebelum manusia keluar untuk shalat ‘id (HR.Bukhari).
Menurut Yusuf Qardhawi ada dua hikmah zakat fitrah, ialah sebagai berikut:
a.       Membersihkan kotoran selama menjalankan puasa, karena selama menjalankan puasa seringkali orang terjerumus pada perkataan dan perbuatan yang tidak ada manfaatnya serta melakukan perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh Allah.
b.      Menumbuhkan rasa kecintaan kepada orang-orang miskin dan kepada orang-orang yang membutuhkan. Dengan member zakat fitrah kepada orang-orang miskin dan orang- yang membutuhkan akan membawa mereka kepada kebutuhan dan kegembiraan, bersuka cita pada hari raya. ( Sari, 2007: 21-23)
2.      Zakat Maal (Harta)
Zakat Maal (harta) adalah zakat yang dikenakan atas harta (maal) yang dimiliki oleh individu atau lembaga dengan syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan secara hukum (syara). Maal berasal dari bahasa Arab yang secara harfiah berarti ‘harta’.

 Nishab dan Ukurannya
a)       Nishab Dan Zakat Unta
5 – 9 ekor : 1 ekor kambing berumur 2 tahun / lebih, atau 1 ekor domba berumur 1 tahun / lebih
10 – 11 ekor : 2 ekor kambing berumur 2 tahun / lebih, atau 2 ekor domba berumur 1 tahun / lebih
15 – 19 ekor : 3 ekor kambing berumur 2 tahun / lebih, atau 2,3 domba berumur 1 tahun / lebih
20 – 24 ekor : 4 ekor kambing berumur 2 tahun / lebih, atau 4 ekor domba berumur 1 tahun / lebih
25……….dst : Kelipatannya 1 ekor sapi, menurut empat mazhab, berbeda dengan Imamiyah jika 25 ekor, maka wajib mengeluarkan 5 ekor kambing. Kalau jumlahnya 26 ekor, wajib mengeluarkan 1 ekor unta yang berumur 1 tahun lebih.

b)      Nisab Dan Zakat Sapi/ Kerbau
30 – 39 ekor : 1 ekor sapi / kerbau umur 1 tahun / lebih
40 – 59 ekor : 1 ekor sapi / kerbau umur 2 tahun / lebih
60 – 69 ekor : 2 ekor sapi / 1 kerbau umur 1 tahun / lebih
70………dst : Kelipatannya 1 ekor sapi
c)      Nisab Dan Zakat Kambing

40 – 120 ekor : 1 ekor kambing betina berumur 2 tahun / lebih atau 1 ekor domba betina berumur 1 tahun / lebih
121- 200 ekor : 2 ekor kambing betina berumur 2 tahun / lebih atau 2 ekor domba betina berumur 1 tahun / lebih
201- 399 ekor : 3 ekor kambing betina berumur 1 tahun / lebih atau 3 ekor domba betina berumur 2 tahun / lebih. Kecuali Imamiyah, jika 301 ekor maka harus mengeluarkan 4 kambing
400………dst : Kelipatannya 4 ekor kambing betina berumur 2 tahun / lebih atau 4ekor domba berumur 1 tahun / lebih
1.      Hasil pertanian. Hasil pertanian yang dimaksud adalah hasil tumbuh-tumbuhan atau tanaman yang bernilai ekonomis seperti biji-bijian, umbi-umbian, sayur-mayur, buah-buahan, tanaman hias, rumput-rumputan, dedaunan, dll Nishabnya sebanyak 5 wasaq= 300 sha’= 652,8 kg atau 653 kg. Kadar zakat yang harus dikeluarkan sebanyak 1/10-nya jika hasil tanaman tersebut tumbuh dan berkembang tanpa disiram atau tanpa biaya perawatannya, tanpa membayar orang lain untuk merawatnya. Apabila pemeliharaannya memerlukan biaya maka kadar zakat yang harus dikeluarkan sebanyak 1/20-nya. ( Hadzami, 2010:6)
2.      Emas dan Perak. Meliputi harta yang terbuat dari emas dan perak dalam bentuk apapun. Nisab zakat emas 20 mitsqal, berat timbangannya 93,6 gram; zakatnya 1/40 (2,5 % = ½ mitsqal = 2,125 gram). Nisab perak 200 dirham (624 gram) zakatnya 1/40 (2,5 %) = 5 dirham (15,6 gram).(Rasjid, 2011:202).
3.      Harta Perniagaan. Harta perniagaan adalah semua yang diperuntukkan untuk diperjual-belikan dalam berbagai jenisnya, baik berupa barang seperti alat-alat, pakaian, makanan, perhiasan, dll. Perniagaan disini termasuk yang diusahakan secara perorangan maupun kelompok/korporasi.
4.      Hasil Tambang(Ma’din). Meliputi hasil dari proses penambangan benda-benda yang terdapat dalam perut bumi/laut dan memiliki nilai ekonomis seperti minyak, logam, batu bara, mutiara dan lain-lain.
5.      Barang Temuan (Rikaz) adalah harta yang diperoleh seseorang yang berasal dari galian dalam tanah. Harta tersebut ditanam oleh orang-orang dimasa lampau dalm kurun waktu yang sudah cukup lama, dan sudah tidak diketahui lagi pemilik yang sebenarnya, karena tidak didapat keterangan yang cukup untuk itu. Harta terpendam, biasanya berupa emas atau perak, dan wajib dikeluarkan zakatnya sebanyak 1/5 atau 20% dari jumlah harta terpendam tersebut. Ketentuan ini sesuai dengan hadits Rasulullah SAW: “ zakat rikaz ( harta terpendam) adalah sebanyak seperlima”. ( HR. Bukhari dan Muslim). (Yusuf, 2004: 42).
6.      Zakat Profesi. Yakni zakat yang dikeluarkan dari penghasilan profesi (hasil profesi) bila telah mencapai nisab. Profesi dimaksud mencakup profesi pegawai negeri atau swasta, konsultan, dokter, notaris, akuntan, artis, dan wiraswasta. Jika penghasilannya selama setahun lebih dari senilai 85 gram emas dan zakatnya dikeluarkan setahun sekali sebesar 2,5% setelah dikurangi kebutuhan pokok. (Aminah, 2010: 119)
DAFTAR PUSTAKA
AL-Zuhayly, Wahbah, 1997. Zakat Kajian Berbagai Mazhab. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Aminah, Mia Siti. 2010. Muslimah career mencapai karir tertinggi dihadapan Allah, keluarga, dan pekerjaan. Yogyakarta : pustaka Grhatama. (online),
Ash-Shiddieqy, Teungku Muhammad Hasbi. 2011. Kuliah Ibadah. Semarang: PT. Putaka Rizki Putra.
Hadzami, Syafi’i.  2010. Tauhidhihul Adillah. Jakarta: penerbit PT Elex Media Komputindo.
Rasjid, Sulaiman. 2011. Fiqh Islam (Hukum Fiqh Islam). Bandung: Penerbit Sinar Baru Algensindo.
Sari, Elsi Kartika. 2007. Pengantar hukum Zakat & wakaf. Jakarta: Penerbit PT Grasindo,).
Yusuf , Mohammad Asror . 2004. Kaya karena ALLAH. Tangeran: Penerbit PT Kawan Pustaka.


Analisis  
Zakat merupakan salah satu dari rukun islam. Bagi setiap muslim wajib mengeluarkan zakat. Dalam realitanya umat muslim masih ada saja yang tidak mengeluarkan. Bahkan yang terjadi itu ada sebagian orang yang tidak berhak menerima zakat akan tetapi ikut mengambil zakat. Hal tersebut tidak baik ditiru oleh kita semua. Sebagai orang yang mengetahui hal tersebut maka harus diberi peringatan ataupun nasihat, agar orang tersebut tidak mengulangi lagi hal tersebut.

Pada zaman modern ini fiqih pun berkembang, seperti adanya zakat profesi. Kepada para profesi masing-masing yang sudah ditetapkan profesinya terhadap negara maka wajib mengeluarkan zakat profesinya. 

KURBAN DAN AKIKAH

KURBAN DAN AKIKAH
A.    KURBAN
Kurban dalam bahasa Arab disebut ”udhiyah”, yang berarti menyembelih hewan pada pagi hari. Sedangkan menurut istilah, Kurban adalah beribadah kepada Allah dengan cara menyembelih hewan tertentu pada hari raya Idul Adha dan hari tasyrik (tanggal 11,12 dan 13 Zulhijah)[1] .
Dasar hokum diperintahkannya kurban adalah Al-Qur’an  dan Sunah Rasulullah saw.[2]
1.      Al-Qur’an
                                                                                                                                                                                                           
Artinya :
Sungguh, kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak. Maka laksanakanlah salat karena tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah). (Q.S. al-Kausar/108:1-2)
2.      Sunah Rasulullah saw.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                 
Artinya:
Barang siapa yang telah mempunyai kemampuan berkurban, tetapi ia tidak juga berkurban, maka janganlah ia menghampiri tempat salat kami. (H.R. Ahmad dari Abu Hurairah:7924 dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah).
Adapun waktu penyembelihan hewan qurban dimulai matahari melambung dari terbitnya pada hari idul adha yaitu tanggal 10 Dzulhijjah, kira-kira cukup untuk melaksanakan shalat dua raka’at dan khutbah dua kali yang cepat (cukup melaksanakan rukun-rukunnya) sampai terbenamnya matahari pada akhir hari tasyrik yaitu tanggal 13 Dzulhijjah. Namun, yang paling utama penyembelihan dilaksanakan setelah selesai shalat Idul Adha sekira matahari sudah kadar satu tombak. Sebaiknya penyembelihan di tempat yang enak, tidak keras. Dilaksanakan pada siang hari kecuali ada hajat, maka pada malam hari. [3]
Binatang yang sah untuk qurban ialah yang tidak bercacat, misalnya pincang, sangat kurus, sakit, putus telinga, putus ekornya, dan telah berumur sebagai berikut:
1)      Domba yang telah berumur satu tahun lebih atau sudah berganti gigi.
2)      Kambing yang telah berumur dua tahun atau lebih.
3)      Unta yang telah berumur lima tahun atau lebih.
B.      Aqiqah
‘ Aqiqah artinya sama dengan dzabihah, yaitu binatang yang disembelih. Akan tetapi, dalam istilah ‘aqiqah itu yang dimaksud adalah Kambing atau Biri-biri jantan atau betina yang disembelih berhubung dengan adanya anak yang baru dilahirkan. Bila anak itu laki-laki, maka ‘aqiqah-nya dua ekor kambing yang sama (mukaafiataani); dan bila anak itu perempuan‘aqiqah-nya satu ekor kambing. kambing tersebut disembelih pada hari ketujuh, kemudian daging ‘aqiqah itu dengan segala baginya disedekahkan kepada fakir miskin sebagaimana halnya daging kurban.[4]
Waktu penyembelihan hewan aqiqah adalah dimulai ketika bayi sudah lahir sempurna, sedangkan tidak ada batas akhirnya. Jika smpai baligh anak tersebut belum diaqiqahi maka anak tersebut mengaqiqahi dirinya sendiri, sebaiknya aqiqah dilakasanakan hari ketujuh.[5]
Nabi SAW bersabda:
                                                                                                                 
Sembelihlah aqiqah atas nama si bayi dan cukurlah rambutnya.”
Binatang yang sah menjadi aqiqah sama dengan keadaan binatang yang sah untuk qurban, macamnya, umurnya, dan jangan bercacat. Kalau hanya menyembelih seekor saja untuk anak laki-laki, hal itu sudah memadai. Disunatkan dimasak lebih dahulu, kemudian disedekahkan kepada fakir miskin. Orang yang melaksanakan aqiqah pun boleh memakan sedikit dari daging aqiqah sebagaimana qurban.[6]
1.      Syarat-syarat melaksanakan aqiqah yaitu:
a)      Dari sudut umur binatang Aqiqah & korban sama saja.
b)      Sembelihan aqiqah dipotong mengikut sendinya dengan tidak memecahkan tulang sesuai dengan tujuan aqiqah itu sebagai “Fida”(mempertalikan ikatan diri anak dengan Allah swt).
c)      Sunat dimasak dan dibagi atau dijamu fakir dan miskin, ahli keluarga, tetangga dan saudara. Berbeda dengan daging qurban, sunat dibagikan daging yang belum dimasak.
d)      Anak lelaki disunatkan aqiqah dengan dua ekor kambing dan seekor untuk anak perempuan kerana mengikut sunnah Rasulullah.
2.      cara menyembelih hewan qurban adalah sebagai berikut:
a)      Cara menyembelih sama dengan penyembelihan yang disyaratkan Islam, yakni penyembelih harus orang Islam (khusus qurban, sunnah penyembelih adalah yang berqurban sendiri, jika diwakilkan disunatkan hadiri pada waktu penyembelihannya).
b)       Alat untuk menyembelih harus benda tajam. Tidak boleh menggunakan gigi, kuku dan tulang.
c)      Memotong 2 urat yang ada di kiri-kanan leher agar lekas matinya, tetapi jangan sampai putus lehernya (makruh).
d)     Binatang yang disembelih hendaklah digulingkan ke sebelah kiri tulang rusuknya agar mudah saat penyembelihan.
e)      Hewan yang disembelih disunnahkan dihadapkan ke arah Kiblat.
f)       Orang yang menyembelih disunatkan membaca:
g)      Basmalah
h)      Shalawat
i)        Takbir
j)        Do`a:
C.    Analisis
Pada materi kurban dan akikah, sebenarnya banyak sekali permasalahan yang kami temukan didalamnya melihat beberapa bukti nyata dalam kehidupan disekeliling kami, khususnya diperkampungan. Mengenai kurban dan akikah biasa terjadi permasalahan dalam pembagian daging hewan yang telah dikurbankan oleh seseorang, terkadang pembagian daging ini kurang begitu rata. Rata dalam hal ini seringkali ditemukan pembagian daging untuk kerabat yang semisal dikampungnya dari keluarga terpandang maka pendapatan daging hewan kurbanya lebih banyak dari pada keluarga yang sederhana. Sebagai mana kita ketahui bahwasannya Pemanfaatan hasil sembelihan qurban yang dibolehkan adalah:
1.      Dimakan oleh shohibul qurban.
2.      Disedekahkan kepada faqir miskin untuk memenuhi kebutuhan mereka.
3.      Dihadiahkan pada kerabat untuk mengikat tali silaturahmi, pada tetangga dalam rangka berbuat baik dan pada saudara muslim lainnya agar memperkuat ukhuwah.





[1] Muhamad Sokhih Asyhadi, Fiqih Ibadah Versi Madzhab Syafi’i, (Pondok Pesantren Fadllul Wahid Ngangkruk Bandungsari-Grobogan), hlm., 198.
[2] M. Rizal.Kosim, Pengamalan fikih 1 untuk kelas x Madrasah Aliyah, Solo: Aqila, 2014. Hlm 80
[3] Ibid. Hlm. 202
[4] Abdurrahman, E.Hukum Qurban, Aqiqah dan Sembelihan. Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2011. Hlm.35
[5]Muhamad Sokhih Asyhadi, Fiqih Ibadah Versi Madzhab Syafi’, hlm., 204.

[6] Sulaiman Rasyid, Fiqih Islam, Bandung: Sinar Baru Algensindio, 2012, hlm.481